ISI HATI HABIB AHMAD BIN JINDAN

Apa Setelah Pensucian?

Saudaraku yang mulia.

Hari ini, hari senin 30 Muharram 1441 Hijriyah / 30 September 2019, di perjalanan saya menuju Al Hawthah Al Jindaniyah saya menulis kata-kata ini setelah yang mulia guru kami Al ‘Allaamah Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz meninggalkan Indonesia dengan segala kesan dan pesannya.

Kehadiran beliau di tengah-tengah umat memiliki kesan istimewa yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Semua merindukan kehadiran beliau jauh berbulan sebelum beliau datang. Menjelang kedatangan, semua sibuk mempersiapkan penyambutan dan acara. Tatkala beliau tiba, seakan setiap hari keberadaan beliau adalah hari raya yang sangat meriah. Jumlah orang-orang yang menghadiri acara beliau setiap tahun semakin berlimpah ruah. Acara tabligh akbar Jalsah Itsnain di Monas, yang dihadiri oleh ratusan ribu jamaah. Acara haul Asy Syaikh Abu Bakar bin Salim di kediaman As Sayyid Muhsin Al Hamid di Cidodol kebayoran yang dihadiri oleh ratusan ribu. Di Al Fachriyah Alm Al Habib Novel bin Salim bin Jindan yang juga dihadiri oleh jumlah yang sangat banyak. Di bandungpun demikian puluhan hingga ratusan ribu jamaah. Di Simpang lima Semarang, di Masjid Riyadh Solo Alm Al Habib Anis bin Alwi Al Habsyi yang dihadiri oleh jamaah yang sangat banyak sekali bagaikan acara Haul Al Habib Ali yang diadakan setiap tahun. Tabligh akbar bersama Al Habib Syaikh bin Abdul Qadir As Seggaf di solo yang juga puluhan hingga ratusan ribu jamaah. Demikin juga di Palangkaraya dan di Bondowoso. Ini acara-acara umum. Demikian halnya dengan acara khusus seperti pertemuan-pertemuan dengan para ulama dan pemerintah. Boleh jadi puluhan hingga ratusan ribu menghadiri acara tabligh akbar bersama beliau, tetapi yang unik dan istimewa adalah shalat subuh bersama beliaupun jamaah berlimpah ruah, bukan hanya seperti solat jumat, namun lebih dari jamaah hari raya idul fitri dan idul adha di masjid raya.

Dalam penyampaian dan nasehat beliau dengan bahasa arab, jamaah yang mayoritas tidak bisa bahasa arab telah lebih dulu memahami ucapan beliau sebelum penerjemah menerjemahkan. Karena nasehat beliau sumbernya adalah mata air hati dan sanubari yang akan mengalir masuk ke dalam jiwa, hati dan sanubari sebelum sampai di telinga para pendengar. Kehadiran sosok beliau membuat para jamaah menangis sebelum mendengar nasehat beliau yang menyentuh sanubari. Mungkin hampir semua jamaah memandang beliau sebagai cermin yang menampilkan sosok indah Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam. Sosok yang laksana Zamrud Hijau yang di dalamnya segala keindahan alam semesta.

 

Saudaraku yang mulia.

Pada titik ini menurut saya bahwa sepatutnya sayamenahandiri dalam melukiskan sosok istimewa beliau. Sebab semua yang menyaksikan beliau pasti akan menyatakanbahwa segala apa yangdiungkapkan tentang beliau dari kata-kata dan lukisan-lukisan yang menggambarkan keindahan sosok beliau, semua itu hanya sekedar ungkapan yang kenyaaannya jauh dan jauh lebih indah. Bagaikan seorang yang memandang keindahan cahaya rembulanlan yang nampak di danau yang tenang. Yang dia lihat hanya kanvas air danau yang terlukiskan di atasnya lukisan rembulan. Namun jika di sejenak mengangkat kepalanya dan melihat ke ufuk langit, maka dia akan menyadari bahwa purnama yang sesungguhnya jauh lebih indah dari apa yang nampak di air danau.

 

Saudaraku yang mulia.

Jika ini hanya sosok seorang manusia yang bernama Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz. Sosok yang menjalankan Islam dengan sebenar-benarnya. Sosok yang sempurna dalam meneladani Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam. Maka bagaimana dengan sosok Sang Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam?. Hanya Tuhan Muhammad Yang Maha Mengetahui tentang sosok Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam.

 

Saudaraku yang mulia.

Hal penting yang menurut saya perlu menjadi bahan renungan untuk kita semua. Setelah beliau meninggalkan Indonesia dan kembali ke Tarim, kitapun kembali kepada aktifitas kita sehari-hari. Kita kembali kepada kesibukan kita yang beragam. Mencari rezeki yang halal, bekerja, sekolah dan belajar, beraktiftas, berpolitik, berniaga, mengurus rumah tangga dan lain sebagainya. Inilah kehidupan yang harus tetap kita lanjutkan. Roda kehidupan yang akan terus berputar. Tetapi, akankah kita kembali kepada kebiasan buruk kita? Setelah nasehat yang membuat hati menjadi luluh, akankah kita kembali kepada ghibah yang selama ini kita ucapkan? Setelah mau’idzah yang membuat air mata berderai, akankah kita kembali kepada namimah dankobohongan? Setelah bimbingan yang membuka akal sehat, akankah kita kembali kepada kegilaan yang dahulu menodai kita? Setelah ucapan kedamaian yang menghiasi beliau dan yang beliau contohkan kepada kita, akankan kita kembali kepada ucapan- ucapan kotor, ucapan kebencian, saling menuduh, sumpah serapah yang dahulu mengotori kita? Setelah kehadiran beliau yang menyatukan berbagai kelompok, akankah kita kembali berpecah belah? Setelah usaha beliau yang mendamaikan berbagai kubu, akankah kita kembali bertikai? Setelah beliau penuhi hati ini dengan Allah, akankah kita bocorkan wadah hati ini hingga keluar semua cahaya dan sirna? Setelah beliau isi hati kita dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam, akankah kita menggantinya dengan selainnya?

 

Saudaraku yang mulia.

Mari kita luangkan waktu kita sejenak untuk berintrospeksi diri, untuk memperbaiki diri, untuk menjaga diri yang telah mendapatkan curahan rahmat ini agar tidak ternodai lagi. Duduklah, berpikirlah, merenunglah, rencanakanlah, untuk kebaikan diri kita, keluarga, anak, dan masa depan kita, baik di dunia dan di akhirat. Sayang sekali jika apa yang telah kita dapatkan dari rahmat Allah, hilang dan sirna begitu saja. Sayang dan sayang sekali.

 

Saudaraku yang mulia.

Inilah yang ingin saya sampaikan dan ingatkan untuk diri saya utamanya danuntuk kita semua. Apa yang akan kita lakukan setelah ini semua? Ingatlah akan pertanggung jawaban di hadapan Allah kelak di hari kiamat atas anugerah besar ini. Persiapkan jawaban kita tatkala kelak kita berdiri di hadapan Allah untuk pertanggung jawaban. Mudah-mudahan tatkala tiba saatnya, jawaban kita kepada Allah dapat membahagiakan kita dan memasukkan kita ke dalam surga.

 

Sahabatmu

Asy Syariif Ahmad bin Novel bin Salim bin Ahmad bin Jindan Al Alawi Al Indunisi Dzuhur senin, 30 Muharram 1441 Hijriyah/ 30 September 2019

Di Al Hawthah Al Jindaniyah, Tajur Halang.