ISI HATI HABIB AHMAD BIN JINDAN

Tarbiyah Islam dan Cinta Rasul yang Indah dari Negeri Multi Etnis Singapura

 بسم الله الرحمن الرحيم

الحـــمد لله رب الـــعالمـــين و الـــصلاة و الســـلام عـــلى  رســـول الله محـــمد و آلـــه و صـــحبه و مـــن والاه، أمـــا بعد

 

Pagi hari ini, rabu, 28 Rabiuts-Tsani 1441 Hijriyah/ 25 Desember 2019 saya menghadiri acara Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam di Singapura. Hal yang menarik dari acara maulid tersebut adalah jamaah yang hadir sangat banyak, lebih dari tiga puluh ribu orang yang menghadirinya dan jumlah besar ini bukan dibesar-besarkan. Saya datang malam sebelum acara ke Madrasah Al Junaid yang digunakan sebagai dapur memasak untuk acara tersebut. Lebih dari 150 orang yang memasak. Lebih dari 60 gidir yang digunakan untuk memasak nasi briyani. Hampir dua ton daging di masak untuk acara tersebut. Ustad Shafi (sebagaimana yang beliau sampaikan langsung kepada saya, menimba ilmu pada masa mudanya di Madrasah Al Junaid, kemudian beliau melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo, kemudian Di Darul Hadits Malang dan atas perintah Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfaqih beliau pergi ke Makkah untuk belajar dari para ulamanya yang di antaranya adalah As Sayyid Muhammad bib Alwi Al Maliki), beliau mengatakan malam itu kepada saya, bahwa kami membuat sekitar tiga belas ribu kotak nasi briyani yang dibagikan untuk jamaah. Dan itu tidak cukup untuk setengah jamaah yang hadir. Tempat yang digunakan untuk acara maulid tersebut di suatu Hall di Singapura yang dapat menampung sekitar tiga puluh ribu orang yaitu di Singapore Expo. Singapore expo adalah tempat konvensi dan pameran terbesar di Singapura dengan ukuran 100.000 meter persegi. 

Saat saya menghadiri acara tersebut, saya dapati Hall tersebut penuh dengan jamaah dan sangat padat sekali. Tetapi yang istimewa adalah, jumlah yang sangat banyak tersebut, penuh dengan akhlak, kesantunan, tertib, tenang. Tidak terdengar suara selain maulid dan acara. Saya menyaksikan, bahwa semua yang hadir, penuh dengan kekhusyu’an, menyimak, mendengar dengan seksama, berdoa dengan penuh harapan, air mata berlinang untuk Allah.

Hal yang tidak kalah istimewa bahwa acara tersebut dihadiri oleh para ulama dari berbagai penjuru dunia yang memang datang ke Singapura dalam rangkaian acara - acara maulid dan haul yang diadakan setiap tahun di Singapura. Di antara para tetamu ulama adalah, Al Habib Hasan bin Muhammad bin Salim Al Atthas, seorang tokoh ulama Singapura yang tidak asing di dunia Islam, sosok yang diakui oleh semua yang berjumpa dengannya bahwa beliau memiliki akhlak dan budi pekerti yang sangat luhur. Di antara para tetamu ulama adalah guru kami Al ‘Allaamah As Sayyid Umar bin Hamid Al Jailani, Mufti Asy Syaafi’iyyah di Makkah Al Mukarramah. As Sayyid Afifuddin bin Manshuruddin Al Jailani, Al Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan dan masih banyak lagi tetamu yang lainnya. 

Merupakan kehormatan bagi saya untuk dipercaya menterjemahkan ceramah guru kami Al ‘Allaamah As Saayid Umar bin Hamid Al Jailani. Sebagaimana As Sayyid Afifuddin Al Jailani memberikan nasehat dengan bahasa inggris yang kemudian ditutup dengan nasehat yang disampaikan dengan bahasa Indonesia oleh Al Habib Jindan. Mutiara acara ini adalah doa penutup yang disampaikan oleh Al Habib Hasan bin Muhammad bin Salim Al Atthas setelah pembacaan maulid dibacakan dari awal acara.

Ada sesuatu yang istimewa yang saya saksikan, sebagaimana yang sebutkan di awal yaitu di malam sebelum acara saat saya mengunjungi Madrasah Al Junaid yang digunakan sebagai dapur memasak untuk acara tersebut. Lebih dari 150 orang yang memasak. Mereka semua memasak dengan semangat dan penuh cinta. Saya melihat di wajah mereka cinta yang besar kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam. Saya melihat ketulusan yang nyata pada semangat mereka dalam berkhidmah semata-mata karena cinta kepada Baginda Yang Agung Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam. Saya sempat diminta oleh Ustad Shafi malam itu memberikan ceramah untuk mereka yang memasak dan membantu. Saya melihat air mata berlinang dari mata mereka, harapan, rindu, cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Harapan kepada Allah agar senantiasa memberikan segala harapan kami dan mereka, memberikan keberkahan kepada kami dan mereka, dan mengumpulkan kami dan mereka kelak bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam.

 

و صلى الله و سلم على سيدنا محمد و على آله و صحبه و التابعين و الحمد لله رب العالمين.

 

Asy Syariif Ahmad bin Novel bin Salim bin Jindan
Rabu, 28 Rabiuts-Tsani 1441 Hijriyah / 25 Desember 2019
Singapore Expo,  Singapura.

 

Foto